The First Bubble Economic Crisis (Tulip Mania)

Dalam beberapa tahun terakhir dunia dikejutkan dengan timbulnya berbagai krisis global yang menyerang setiap sendi perekonomian negara di dunia. Dimulai dari Krisis Suprime Mortgage yang melanda Amerika di tahun 2008 yang dampaknya masih sangat terasa hingga saat ini sampai Krisis di Zona Eropa yang bermula dari resesi yang terjadi di Yunani tahun 2010. Kedua  krisis tersebut telah mampu melumpuhkan keadaan ekonomi setiap negara di dunia dikarenakan cengkraman yang sangat kuat dari kedua wilayah tersebut terhadap aktivitas perekonomian secara global.

Namun,  jika kita melihat dan mengkaji secara mendalam sesungguhnya setiap krisis yang terjadi hanyalah merupakan PERULANGAN dari krisis-krisis yang terjadi di masa lalu. Hanya terdapat perbedaan  mencolok dari beberapa krisis yang terjadi di abad ini yang menyebabkan permasalahan menjadi semakin kompleks dan dibutuhkan berbagai pisau analisis untuk memahami dan menemukan solusi untuk setidaknya mengurangi dampak yang menjangkiti negara-negara lain, khususnya Indonesia yang mendapat julukan sebagai NEGARA DUNIA KETIGA. Berbagai inovasi yang diterapkan para pelaku ekonomi, invasi teknologi dan perilaku para spekulan yang semakin lihai “memancing di air keruh” setidaknya menjadi faktor utama dari transformasi krisis yang semakin dahsyat melanda perekonomian secara global.
“Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah bagaimana cara untuk memahami dan menemukan solusi dalam mengatasi krisis yang terjadi saat ini??????????”

Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan mempelajari berbagai krisis di masa lalu. Pada dasarnya setiap krisis yang terjadi memiliki kemiripan jalur/transmisi penyebab krisis. Meskipun terdapat keunikan pada setiap krisis namun merangkai dan mempelajari setiap kejadian di masa lalu menjadi satu kesatuan yang utuh dapat menjadi solusi yang ampuh untuk mengurangi bahkan mengatasi dampak krisis yang terjadi. Jika kita mengkaji lebih jauh kebelakang, terdapat peristiwa krisis yang terjadi pada abad ke 17 di Belanda yang timbul karena “irrasionalitas para pelaku ekonomi” dan “perilaku para spekulan”. Krisis tersebut dinamankan KRISIS TULIP MANIA.

Krisis Tulip Mania menjadi simbol keemasan Belanda dimana harga tulip pada saat itu melonjak naik berpuluh-puluh kali lipat melebihi penghasilan para pengrajin berpengalaman. Bunga Tulip dianggap sebagai simbol kebangsawanan pada saat itu sehingga setiap orang rela menjual seluruh aset yang dimiliki demi mendapatkannya. Sifat eksklusif Tulip semakin bertambah ketika ditemukan sebuah virus tidak mematikan yang diberi nama mosaic. Virus tersebut menyebabkan tulip menjadi berwarna-warni sehingga meningkatkan harga jualnnya berkali-kali lipat. Tulip sendiri diklasifikasikan berdasarkan warnanya. Tulip dengan satu  warna yaitu merah, kuning, atau putih dikenal dengan nama Couleren. Namun varian tulip yang lebih populer tulip multi-warna seperti Rosen (merah atau putih dengan background putih), Violetten (ungu atau nila dengan background putih), dan Bizarden (merah, coklat atau ungu dengan background kuning). Warna-warna spektakuler tulip tersebut merupakan efek dari virus mosaic disebut di atas.

Hal tersebut menjadi mania dikarenakan adanya opsi kepemilikan bulb tulip melalui future market sehingga kepemilikan kontrak tulip dapat dimiliki oleh kaum menengah ke bawah. Hal tersebut juga berdampak pada rasionalitas masyarakat kala itu yang menyebabkan mereka berpikir bahwa nilai tulip dan akan terus melonjak naik dan tidak terpengaruh olah guncangan ekonomi. Peristiwa tersebut merupakan cikal bakal munculnya istilah Bubble Economic yang merupakan transformasi dari krisis di dunia modern yang sangat identik dengan peristiwa krisis yang terjadi saat ini, salah satunya krisis Subprime Mortgage yang melanda Amerika tahun 2008.

 Selanjutnya, tanpa disadari banyak pihak aturan perdagangan mulai diperketat oleh pemerintah. Namun hal tersebut justru dimanfaatkan para spekulan dengan menjual seluruh kontrak Tulip yang dimilikinya demi memperoleh keuntungan yang besar. Tindakan para spekulan tersebut menyebabkan harga tulip jatuh disebabkan banyaknya kontrak tulip yang beredar di pasar. Seketika itu juga banyak pihak yang mengalami kebangkrutan secara massal akibat investasi yang berlebihan terhadap Tulip. Seluruh kontrak tulip yang mereka miliki tidak lagi dapat ditukarkan dengan apapun. Peristiwa tersebut berlanjut menjadi sebuah krisis ekonomi dimana hal tersebut telah menyerang hampir seluruh sendi-sendi perekonomian dan berdampak global dikarenakan banyaknya pihak yang terlibat dalam perdagangan kontrak tulip.

Melalui peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa Keterlambatan pemerintah dalam menetapkan aturan perdagangan, ekspektasi berlebihan dari pelaku ekonomi dan perilaku “licik”  para spekulan yang menyebabkan pecahnya krisis Tulip Mania juga menjadi ciri yang sangat khas dari krisis-krisis yang terjadi di dunia modern dan seharusnya hal ini dapat dijadikan pelajaran dalam memahami, melakukan mitigasi bahkan pencegahan terhadap timbulnya krisis-krisis dimasa yang akan datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: