Resesi dan Depresi Ekonomi

Picture1

Pada dunia perekonomian baik secara regional maupun global, berbagai bencana ekonomi atau yang disebut dengan krisis ekonomi adalah suatu fenomena yang selalu terjadi. Krisis ekonomi bahkan seperti sebuah siklus yang terjadi berulang kali dengan wujudnya yang semakin kompleks sebagai akibat dari perkembangan transaksi keuangan dan perkembangan teknologi. Secara umum, sebuah krisis ekonomi dapat berbentuk resesi dan depresi. Pada bahasan kali ini saya akan mengulas perbedaan dari 2 (dua) bentuk krisis ekonomi tersebut.

Keadaan ekonomi suatu negara dikatakan mengalami resesi apabila terjadi penurunan tingkat PDB-nya berlangsung selama enam bulan (dua semester) berturut-turut. Hal ini ditandai dengan tingkat pengangguran (atau kesempatan kerja) yang tinggi (rendah), tingkat upah yang stagnan, dan kejatuhan penjualan retail. Resesi ekonomi umumnya terjadi tidak lebih dari satu tahun dan dianggap suatu gejala yang normal pada perekonomian suatu negara meskipun hingga saat ini para ekonom belum dapat merumuskan suatu kesepakatan bersama mengenai sebab-sebab terjadinya resesi ekonomi.

Sedangkan apa yang disebut sebagai depresi ekonomi dapat dikatakan sebagai titik terendah dalam sebuah siklus ekonomi. Hal ini ditandai dengan kemampuan belanja masyarakat yang semakin menurun, jumlah pengangguran yang sangat besar (lebih dari 50% dari jumlah tenaga kerja yang tersedia), tingkat konsumsi yang semakin menurun sehingga menimbulkan kelebihan suplai di pasar domestik, harga-harga barang kebutuhan semakin berjatuhan, dan hilangnya kepercayaan masyarakat akan masa depan. Dalam sejarah perekonomian modern, salah satu depresi ekonomi terbesar yang pernah terjadi adalah pada periode 1930-1940 dimana pada saat itu ekonomi Amerika Serikat (AS) nyaris berada dalam kehancuran total.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan dari kedua bentuk krisis ekonomi tersebut terletak pada jangka waktu terjadinya krisis dan tingkat bencana ekonomi yang ditimbulkannya. Pemahaman mengenai krisis ekonomi dan keuangan haruslah mulai menjadi kajian rutin, khususnya kepada para mahasiswa ekonomi dan masyarakat pada umumnya. Pemahaman yang berkelanjutan mengenai krisis ekonomi akan menjadikan kita lebih peka terhadap sumber-sumber dan jalur transmisi terjadinya krisis. Dengan pemahaman yang semakin baik, maka pencegahan dini terhadap terjadinya krisis baik dalam bentuk resesi bahkan depresi dapat dilakukan. Karena masyarakat dengan seluruh aktivitas ekonomi dan keuangannya merupakan pihak yang turut bertanggung jawab bahkan berperan besar akan terjadinya krisis ekonomi baik secara regional maupun global.

(Dikutip dari: Tulus Tambunan. 2011. Memahami Krisis: Siasat Membangun Kebijakan Ekonomi. Jakarta: LP3ES)

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: